BENARKAH BANGSA INI SUDAH MERDEKA 64 TAHUN
Beberapa minggu yang lalu, Indonesia telah memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-64. Begitu berat perjuangan untuk meraih kemerdekaan dari tangan penjajah, namun seiring perjalanannya. Manusia Indonesia saat ini, tinggal meneruskan perjuangan itu. Sudahkah kemerdekaan ini kita syukuri dan diisi dengan praktik solidaritas dan simpati, untuk membangkitkan dan menghempas segala rintangan yang ada dalam perjalanan hidup bangsa ini?
Mempertahankan jauh lebih sulit, dibandingkan dengan merebut. Namun, itulah fenomena yang ada di Negara ini. Kemerdekaan sudah dipegang 64 tahun, sudahkan rakyat negeri ini merasakan ataupun mencicipi apa itu kemerdekaan? Merdeka tidak hanya bebas dari jajahan secara fisik, tetapi jiwa juga merasakan keamanan, kenyamanan, dan ketentraman. Warga masyarakat yang sulit mendapatkan nafkah hidup, apakah layak untuk kita katakan merdeka? Sama sekali tidak seperti itu kemerdekaan yang dimaksudkan.
Di satu sisi negeri ini sudah maju, namun banyak sisi yang bolong dan bahkan sudah ambruk, karena tak pernah disentu oleh para demokrat negeri ini. Akankah ini terus berlangsung sampai HUT Kemerdekaan bangsa ini 65 tahun mendatang?. Jangan pernah, terperosok ke jurang yang sama, karena itu sangat merugikan waktu yang sudah terlewati. Namun, strategi, efesiensi, dan teknik serta planning yang diikuti dengan kompetensi diri akan mampu mendobrak kegelapan para petinggi negeri ini, untuk tak mengambil untung dengan mematikan masyarakat sendiri, dan tak hanya memikirkan perut sendiri dan kalangannya saja.
Haruskah pemerintahan yang disalahkan, dengan terjadinya sekian peristiwa mengharukan yang dialami bangsa kita? Bukan saatnya lagi untuk saling menyalahkan dan mencari kebenaran. Karena bangsa ini membutuhkan pahlawan yang rela berkorban dengan jiwa, hati, dan raganya. Itulah yang diharapkan penduduk di negeri tercinta ini.
Akankah di era mendatang, dengan pemimpin bangsa yang beberapa bulan lalu sudah dipilih rakyat, akan mampu merubah keadaan negeri ini untuk cerah, senyum, dan memberikan aura kasih bagi segenap penduduknya? Tunggulah kedatangan itu. Tapi semua itu mustahil, jika peradaban birokrat tetap jalan ditempat. Keberanian untuk merubah pondasi dan teras pejabat negeri ini, adalah harapan yang harus segera direkomendasikan dan diwujudkan pemimpin Bumi Indonesia tercinta ini.
Rakyat yang dikatakan sebagai pemilik, pencetus, dan pengguna demokrasi bangsa ini. Selalu dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Banyak sekali inspirasi mereka yang tak digurbis. Maka, rakyat tidak sepenuhnya salah begitu juga pemerintah kita. Namun jika keduanya terjadi kesinkronan, maka permasalahan negeri ini, lambat laun akan terminimalisir. Dan akan memberikan dampak positif bagi cita-cita bangsa, sehingga akan mudah diraih dan diwujudkan di Bumi Pertiwi ini.
Kemerdekaan yang sudah kita genggam, jangan hanya dipandang, dan dibelai saja. Tapi pernahkan kita berpikir bagaimana jika tangan ini diberi es yang sangat dingin. Karena begitulah bentuk jajahan yang dirasakan pada era sekarang ini. Banyak sekali doktrin-doktrin yang masuk dengan cara mudah ke negeri ini. Akibat yang timbul, begitu hebat bahkan tak jarang memusnahkan banyak pemuda sebagai generasi penerus.
Mengisi kemerdekaan tidak hanya dengan cara berdiri menghormat bendera selama empat puluh lima menit, mengadakan lomba di sana-sini. Namun, harus melakukan banyak hal yang jauh lebih memberikan nilai nasionalisme. Mulai saling membantu masyarakat yang kurang mampu, daripada menghabiskan uang untuk memperingati kemerdekaan dengan membeli berpuluh meter kain atau berates-ratus pohon bamboo hanya untuk mendirikan bendera. Tapi, perjalanan kehidupan, peradaban negeri ini tidak mengalami perbaikan dan inovasi. Maka, jangan heran jika suatu saat kemerdekaan itu hanya akan jadi kenangan belaka.
Senin, 31 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar